Maaf dan Terima Kasih Atas Perasaanmu


“Bulan itu gimana sih orangnya?” Athifa yang sedang tiduran membaca sms dari teman sekelasnya, Lintang.

“dia baik dan asyik” Athifa membalas sms dari Lintang. Bulan adalah salah satu dari 5 sahabat Athifa, mereka berada di satu kelas yang sama sewaktu kelas 2 SMP. Begitu juga dengan Lintang, ia berada satu kelas dengan Athifa dkk. Athifa dan sahabat- sahabatnya tau bahwa Lintang mempunyai perasaan pada Bulan. Karena hal itu, Athifa jadi dekat dengan Lintang karena Lintang selalu bertanya mengenai Bulan.

Dikelas, sebenarnya ada 2 orang yang menyukai Bulan dan diantara mereka semua tau tentang itu. Namanya Awan, Lintang dan Awan masih ragu untuk menyatakan cinta pada Bulan karena mereka juga punya rasa malu antara satu dengan yang lain yang kesannya tak mau ada persaingan antara keduanya.

Hingga kelas 3, semua hanya diam atau hanya melakukan kontak mata. Sejak itu pula, Lintang sepertinya mulai bosan dan malah tertarik pada Athifa. Bulan sendiri tidak punya perasaan apa- apa pada Lintang maupun Awan.

Lintang tetap melakukan kontak dengan Athifa. Tapi topiknya bukan tentang Bulan, tapi mengenai mereka berdua sendiri. Awalnya Athifa tak sadar dan menganggapnya berkomunikasi biasa antar teman, tapi kadang ketika Lintang menghubunginya terlalu sering, ia-pun curiga.
Hubungan via sms-pun terus terjadi hingga SMA, mereka berada di sekolah yang berbeda. Tapi Lintang tetap menghubungi Athifa, menanyakan tentang ini itu seperti “lagi apa?”, “dah makan belum?”, “lagi dimana?” de el el. Awalnya, Athifa tak merasa terganggu dan terus menanggapi Lintang, hingga kelas 3 SMA. Athifa merasa Lintang menganggu, Lintang-pun agaknya mulai berpikir bahwa Athifa tidak tau perasaannya walau berkali- kali ia sudah mengungkapkan kata- kata mutiara yang bahkan Athifa merasa risih membacanya. Lintang berpikir mungkin Athifa tak punya perasaan apa- apa padanya.

Suatu hari, Athifa membuka facebook di sebuah warnet dekat rumahnya.

“malem” sebuah chat muncul dari halaman facebooknya, ia kaget karena yang mengajaknya chat adalah Lintang.
“malem” dibalasnya chat itu.
“kamu lagi di “Mickey-net”kan?” kata Lintang, Athifa- pun kaget dan berpikir darimana Lintang tau bahwa ia ada di warnet.
“aku ada di computer-4”, ‘deg’ Athifa tak menyangka bahwa Lintang akan ada di warnet yang sama, karena rumah Lintang sangat jauh jaraknya dengan rumahnya.
“sombong” kata Lintang. Athifa kembali risih dengan kedatangannya.
“oh ya? Coba tebak judul lagu yang lagi diputar ‘Mickey-net’?” kata Athifa mengalihkan perhatian. Mereka mulai tebak2an lagu. 1 lagu benar dan terus dilanjutkan.
‘It’s a quarter after one, I’m a little drunk and I need you now
Said I wouldn’t call but I lost all control and I need you now’
“tebak lagu ini?” tanya Athifa.
“ga tau, penyanyinya cewek, apa judulnya?” balas Lintang.
“need you know” kata Athifa.
Setelah lama, Athifa bangkit dari tempatnya dan menoleh kearah tempat Lintang berada, Lintang- pun melihatnya. Mereka hanya menyapa dengan senyum lalu Athifa kembali ketempatya.
Setelah lama, Lintang bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Athifa, Athifa-pun sempat kaget karena Lintang duduk disampingnya. Mereka hanya mengobrol sebentar.
“udah mau pulang?” Tanya Lintang.
“Iya udah selesai” jawab Athifa.
“Ayo, kamu nggak pulang?” Tanya Athifa lagi.
Lalu Lintang bangkit, Lintang sempat diam sebentar, tak tau apakah dia masih ingin bersama Athifa atau apa.

Semenjak itu hubungan yang sempat jarang terjalin, mulai terjalin kembali. Lintang rajin menghubungi Athifa lewat sms. Dan Athifa membalasnya seperti biasa.

Tapi Athifa sadar, hubungan seperti ini akan sama seterusnya karena Athifa tak punya perasaan apa- apa pada Lintang. Hingga pra lulus SMA, Athifa sadar bahwa ia telah melakukan zinah, zinahnya hati adalah perasaan. Ia sadar bahwa Lintang memiliki perasaan padanya, ia seharusnya tidak memberi harapan palsu pada Lintang, tapi Athifa juga tak tega untuk mengacuhkan Lintang.

Athifa mulai merenggangkan hubungannya dengan Lintang dengan berbagai alasan seperti dia akan sibuk untuk persiapan UNAS, kuliah dll. Lintang sadar atas kerenggangan yang terjadi. Kadang ia mengungkapkan perasaannya di status facebook, atas perasaan sukanya dan kadang juga kekecawaannya.

Athifa sudah menduga bahwa akhirnya akan seperti itu. Lumayan lama mereka tak saling berhubungan. Hingga suatu hari, Athifa membaca status Lintang yang berisi nama seorang perempuan yang sudah lama tidak ia temui. Athifa hanya tersenyum dan bersyukur ia tak sakit hati karenanya, terbukti bahwa selama ini memang ia tak punya perasaan apa- apa pada Lintang. Karena tak sedikit yang bilang kalau “seseorang akan menyadari perasaan orang yang menyukainya ketika ia sudah jauh”, Athifa menepis kalimat itu di otaknya.

“Terima kasih Ya Allah, Engku telah menyadarkanku lebih jelas, Engkau memang memiliki banyak cara untuk membuka mata hamba, maafkan hamba jika hamba terlalu sering membuatmu marah, sesungguhnya tiada yang paling pencemburu selain diriMu dan semoga hamba tak lagi memikirkan/ kepikiran seseorang yang bahkan belum halal” kata Athifa dalam hatinya.
Tak lama dan tak diduga, Lintang terus membuat status untuk perempuan yang lebih muda 2tahun darinya. Athifa tak menyangka setelah kurang lebih 4tahun Lintang mendekatinya, dengan cepatnya ia dekat dengan seorang perempuan, bahkan menjadi kekasih dari perempuan tersebut.

Setidaknya, Lintang tak akan menghubunginya lagi. Athifa mendapat pelajaran bahwa tak perlu memiliki perasaan lebih pada seseorang yang belum tentu akan menetap di hatinya. Dia juga masih perlu memperhatikan orang- orang yang disekitarnya agar tak berakhir menyedihkan. Athifa tersenyum, setidaknya dia belajar bahwa dia juga harus siap dengan ujian dalam mengahadapi setiap orang agar tak merugikan dirinya maupun orang yang bersangkutan.
Bukankah Allah telah menjanjikan seorang pasangan untuknya, yang sifatnya adalah cerminan darinya. Athifa berusaha untuk percaya bahwa jika ia menjaga hatinya, maka jodohnya juga akan menjaga hatinya. “Maka nikmat Allah mana yang kamu dustakan?”.

Rugi sekali bukan? jika kita memikirkan seseorang yang bahkan belum tentu menjadi pasangan hidup kita. Maka jika kita memiliki perasaan pada seseorang, biarkan perasaan itu mengalir karena bisa jadi perasaan itu adalah suatu anugerah sekaligus ujian bagi iman kita. Cintailah seseorang dengan sederhana dan dalam diam, biarkan Allah yang menentukan bagaimana akhirnya. Karena jika kamu berusaha melupakannya, maka semakin teringat ia dipikiranmu, sedang jika kamu berusaha menumbuhkan perasaan dalam hati, akan menyakitkan apabila kenyatannya tak seperti yang diharapkan.

Setelah menuliskan ceritanya, Athifa berkata dalam hatinya “Lintang, maaf dan terima kasih atas perasaanmu yang pada akhirnya menjadi sebuah sejarah, sebuah sejarah yang bagiku memiliki nilai tersendiri, asal kau tau aku tak pernah membencimu, kamu tetap teman baikku, ya menurutku sebatas teman adalah yang terbaik untuk kita. Ternyata kita masih perlu banyak belajar dari kehidupan. Maaf jika kamu kecewa denganku yang berkesan tak pernah mengetahui perasaanmu, aku akan terus berusaha untuk bertahan dalam menghadapi perasaan yang belum halal.”

By: Riani
LKMAI FP Indahnya Islam 2012

About islami123

jendela islami,. Menggapai Indahnya hidup dengan beribdah dan saling berbagi

Posted on 6 Oktober 2012, in kisah Islami, LKMAI Edisi 1, Lomba Islami. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: