Islam dan Profesionalisme Wanita


Khadijah binti Khuwailid wanita termulia di muka bumi, istri pertama Rasulullah, ibu dan moyang dari para keturunan Muhammad. Adalah teladan kemandirian para kaum ibu. Betapa tidak setelah menjanda dua kali dari Atiq bin Abid dan Abu Hallah, janda Khadijah menjalani kehidupan dengan tegar, menjalankan bisnis kain dan pakaian bahkan mampu mengembangkannya, dimana puncak kesuksesan kerajaan bisnisnya ketika ia mempekerjakan Muhammad muda, sehingga Khadijah menaruh hati dan berakhir di pelaminan.

Bukan hanya Khadijah, Halimah as-Sa’diyyah adalah wanita hebat yang mengais rezeki dengan menjual jasa susuan, dan Muhammad kecil adalah salah satu yang menggunakan jasanya.

Dan ingatlah, bahwa Aisyah pernah duduk di atas onta dari Madinah menuju Kufah, menjadi salah satu pemimpin pasukan dalam pertempuran melawan kubu Ali bin Abi Thalib. Walaupun kekalahan menimpanya dan ia harus kembali ke Madinah, namun Aisyah adalah ikon pemimpin wanita yang perannya di atas onta diabadikan oleh sejarah, dan perang itu dinamakan Perang Onta.

Kemandirian dan peran pada kaum keluarga telah terteladankan dan tertulis dalam risalah-risalah para wanita-wanita suci. Mereka tampil sebagai wanita yang berperan aktif, berpengaruh, memimpin, menghasilkan pundi-pundi kekayaan berkah dan teladan baik tentunya.

Namun, bukan peran dan keberhasilannya saja yang harus kita pelajari. Lebih dari itu kita wajib mempelajari bagaimana mereka menjalani proses-proses hingga sampai puncak. Sehingga kita tidak terjerumus pada mimpi keberhasilan saja tanpa mengindahkan kode etik sehingga menghalalkan segala cara.

PLUS MINUS KAUM HAWA

Sebagai manusia pertama, Adam di tempatkan oleh Allah sebagai penghuni surga berteman para malaikat. Pada awal kehidupannya tidak ada sedikitpun problem yang dihadapi Adam, namun ketika Hawa sebagai awal seorang wanita yang diciptakan dari tulang rusuk Adam maka mudah bagi Iblis membujuk dan menjerumuskan keduanya pada kesalahan fatal yang mengakibatkan keduanya terusir turun ke bumi.

Hikayah yang terfimankan Allah dalam surat Al-Baqarah 35-36 tersebut adalah sebuah gambaran problematika keluarga kecil Adam dan Hawa di surga yang timbul dari kelemahan hati seorang Hawa. Lebih tepatnya sabda Nabi dalam sebuah hadis sahih dari Abu Said Al-Khudri: “Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita)” (HR Ahmad dan Muslim).

Lihat pula istri Nuh yang tenggelam karena durhaka, Istri Luth yang terbuai imbalan kaum Sodom. Sehingga tepat prediksi Nabi bahwa wanita adalah mayoritas penghuni neraka.
Allah berfirman dalam surat An-Nisa 34:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi.”
Ayat ini dianggap ayat diskriminatif bagi mereka yang tidak pernah rida dengan keputusan Allah atau setidaknya tidak mau memahami definisi adil. Ayat tersebut adalah penilaian secara umum, bahwa secara umum wanita adalah lemah dari pada laki-laki, meskipun secara khusus beberapa perempuan unggul diantara laki-laki, bukankah Khadijah lebih utama dari pada laki-laki sedunia saat ini?.

Bukan diskriminasi namun bukankah adil tidak selalu sama?, demikianlah hak prerogatif Allah dalam mencipta dan mengatur lemah kuatnya ciptaan-Nya. Berangkat dari perbedaan ini maka Islam mengatur tata hak masing-masing pria dan wanita dengan apik meskipun tidak sama.

Jauh sebelum Islam hadir dengan terutusnya Rasulullah, wanita merupakan kaum kedua bahkan mungkin setara dengan hewan. Zoroaster di Persia memiliki undang-undang bahwa jika seorang suami meninggal maka istri menjadi warisan bagi anak lelaki tertuanya sebagai istri. Hindu India mengajarkan bahwa wanita boleh dijadikan taruhan di meja judi seperti dalam kisah Mahabarata, juga ketika suami meninggal maka istri melakukan bunuh diri dengan menceburkan diri ke dalam api. Bangsa Yunani kuno yang terkenal sebagai sumber filsafat barat disibukkan dengan kajian-kajian yang membahas apakah wanita itu manusia atau jenis dari binatang?. Lebih parah adalah bangsa Arab yang senang membunuh anak perempuannya karena malu jika anak-anaknya tidak berangkat perang.

Rasulullah hadir dengan legalitas sebagai penerima wahyu ayat per ayat selama 23 tahun, menghadirkan nuansa suci dengan aturan-aturan keadilan hak, bukan kesetaraan hak. Perjuangan wanita pada masa ini yang selalu menuntut kesetaraan hak merupakan sebuah pemberontakan atas sebuah ketetapan suci dan mengingkari sebuah fitrah. Tentu menyedihkan jika hari-hari kita disuguhi berita-berita pelecehan seksual, ancaman hukuman mati di luar negeri, TKW pulang dengan cacat, atau bahkan korupsi yang akhir-akhir ini diperankan oleh para Kartini Indonesia, ironis.

Nilai plusnya, wanita adalah seorang yang berada dibalik kesuksesan seorang laki-laki, segala kelembutannya, bahasa cintanya, gemulai kasih dan iba sayangnya mengantarkan anak-anak mereka menjadi tunas-tunas yang tampil ke muka dengan mengembirakan. Kiranya cukup jika kita membaca sejarah Hajar, Maryam dan Ibu Musa sebagai potret ibu yang telah mengantar anak-anak mereka menjadi orang-orang terpilih.

MODERN MENGKIKIS ISLAMI

Kekalahan Islam dalam membangun sebuah sistem perekonomian dalam konsep khilafah, dan kemenangan kapitalisme barat yang menjajah dengan pemiskinan serta konsep emansipasi adalah awal dari segala dekadensi ini. Betapa tidak jika pabrik-pabrik itu berdiri di atas riba orang-orang Yahudi, sedang kaum muslim harus puas hanya menjadi bawahan mereka bahkan tidak jarang agamapun ditaruhkan demi upah-upah yang tidak seberapa.

Kemiskinan dan desakan kebutuhan telah menuntut wanita muslimah harus keluar, tampil sebagai bagian penting dari nafkah yang semestinya beban kaum bapak. Maka ketika mereka telah benar-benar tampil dan harus bekerja di bawah prinsip-prinsip non ilahi, maka hijab-hijab malu, aurat dan batas-batas suci sedikit demi sedikit terkikis hingga tampak lumrah seolah bukan lagi kemungkaran, bahkan menjadi hal yang lucu jika dihalangi. Lihatlah RUU APP yang hanya berjalan di tempat.

Islam tidak menutup pintu atas modernisasi. Bahkan Islam sangat mendukung upaya-upaya yang membawa bangsa ini pada pencapaian gemilang dalam segala aspek. Namun jika harus moral dan agama menjadi taruhan, tentu bukan kegemilangan yang diridai Allah yang akan kita capai, justru kegemilangan yang bermuara dijurang-jurang Jahanam.

Memang, sangat sulit sekali jika kita harus menjawab alasan mereka “kalau saya tidak bekerja, memang anda yang akan memberi saya makan?,” Islam tidak pernah melarang wanita membantu suami mencari nafkah. Dan fatwa-fatwa para ulamapun seharusnya lebih solitif jangan hanya dogmatif, ulama bukan hanya menjawab dan berfatwa namun harus bisa mencarikan solusi yang islami dan diridai, bukankah Nabi pun terutus sebagai “Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin”[Note:1] dengan bisa memberi mereka jalan keluar atas semua kesulitan.

Dan menarik jika kita telah sampai pembahasan ini, bagaimana sikap kita sebagai muslimah? Bolehkah bekerja? Dimanakah sebaiknya? Seperti apakah bentuk pekerjaannya.
BUKAN ISLAM JIKA TANPA SOLUSI

Wanita tercipta dengan area aurat yang lebih banyak dibanding kaum Adam, tentu ketika keluar akan banyak membawa negatif jika ia keluar apalagi dengan penampilan yang terbuka atau setidaknya tertutu…p namun memperlihatkan kemolekan tubuh.

Melarang wanita keluar tentu tidak relevan untuk masa sekarang. Allah tidak melarang wanita keluar namun Allah melarang wanita mempertontonkan aurat. Hanya saja keluar sangat rentan dengan nuansa pamer penampilan, hampir wanita sekarang tidak berdandan untuk suaminya namun berdandan ketika akan ke pasar, walimahan dan kemana saja ketika seorang wanita harus keluar rumah. Ini yang perlu dibenahi.

Dalam cara berpakaian Islam ini memiliki cara-cara tertentu. Namun para ulama berbeda pendapat mengenai batas aurat di muka umum:

1.Aurat wanita seluruh badan termasuk wajah dan kedua telapak tangan.

2.Boleh membuka wajah dan telapak tangan.
Pendapat ulama pertama adalah pendapat yang tepat dengan sunnah. Namun ketika mencarikan solusi umat tentu tidak dengan pemaksaan terhadap hal-hal yang berat dilakukan justru ini akan mengakibatkan mereka akan semakin menjauhi Islam. Dosa satu sama lain adalah berbeda kadar besar kecilnya tergantung besar kecil maksiat. Untuk itu jika kita belum bisa menempatkan syariat secara kaffah maka cukup dengan yang kita mampu. Jika kita tidak bisa menyuruh wanita untuk memakai cadar dan menutup semua bagian tubuh, tentu kita tidak boleh mengatakan “lebih baik telanjang” namun kita memilihkan pakaian yang terbuka namun sedikit, seperti membuka wajah dan tangan dengan tetap memakai jilbab, kiranya ini adalah model pakaian umum wanita muslimah dan telah menjadi trand dan mode saat ini, untuk itu kita tidak boleh memilihkan yang kurang dari itu.

Setelah wanita muslimah telah lengkap dengan busana islaminya, maka berikut tips-tips memilih pekerjaan bagi wanita muslimah:

1.Jika memiliki ketrampilan dan modal, maka sebaiknya berwiraswasta karena lebih aman, tidak dikendalikan orang lain dan dapat mengatur waktu sesuka hati.

2.Jika tidak, maka pilihlah tempat bekerja yang dikepalai orang muslim, mengatur waktu shalat, dan sangat memperhatikan kemanan dan hak-hak seorang muslimah.

3.Pelecehan seksual yang banyak menimpa para PRT sebaiknya menjadi pelajaran untuk menghindari pekerjaan itu karena pekerjaan itu sangat banyak memberi ruang khalwat degan majikan atau lainnya.

4.Pilihlah tempat bekerja yang terbuka dan banyak teman, menurut hemat saya wanita menjadi kondektur atau pengisi BBM adalah lebih baik daripada menjadi PRT karena lebih aman dan jauh dari khalwat.

5.Bekerjalah di daerah sendiri, jangan ke luar negeri. Sabda Nabi: “Empat perkara yang menjadi keberuntungan seseorang, pertama adalah istrinya taat, anak-anaknya berbudi pekerti baik, kawan-kawannya orang saleh, rezekinya di negaranya sendiri.” Pengalaman para pahlawan devisa di Arab Saudi dan Malaysia kiranya cukup sebagai pelajaran. Jika harus merantau hendaknya bersama suami karena kebutuhan biologis yang tersalurkan akan mencegah dari perzinaan.

6.Pilihlah pekerjaan yang tidak meninggalkan anak dan suami, dan setiap hari bisa berkumpul dengan keluarga karena bisa meminimalisir fitnah.

7.Jika suami telah berkecukupan, kiranya jangan memaksakan diri untuk bekerja.

8.Pilihlah tempat bekerja yang banyak kaum muslimnya. Hormatilah orang non muslim namun jagalah jarak dari mereka.

9.Pilihlah pekerjaan yang bersifat “membantu” seperti menjadi perawat, dokter dan lainnya.

10.Jauhilah pekerjaan perbankan walaupun berlebel “syariah” perbankan saat ini hampir dikuasai oleh Yahudi yang mengedepankan sistem ribawi.

Tampilah sebagai wanita-wanita modern nan islami yang berpacu dan maju membawa jati diri umat muslim.

Penulis: Ahmad Syarif Yahya
LKMAI FP Indahnya Islam 2012

About islami123

jendela islami,. Menggapai Indahnya hidup dengan beribdah dan saling berbagi

Posted on 12 September 2012, in LKMAI Edisi 1, Lomba Islami, Muslimah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: