Karena Engkau Seorang Muslimah, Dan Engkaulah Anak Perempuanku


Sedari kecil, Bapak mendidikku dengan nuansa islam yang kental. Saat itu, aku masih terlalu kecil untuk mengenal kehidupan seperti apa yang akan kualami nanti saat aku beranjak dewasa. Dan aku terlampau takut untuk sekedar bertanya kenapa aku harus melakukan segala rutinitas itu?

_Hak Anak_
Pagi hari, setelah shubuh ditegakkan, aku harus mengeja a-ba-ta di Masjid kampung yang letaknya tak jauh dari rumah. Lalu aku bersiap untuk sekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (SD), kau tahu? Saat itu pakaianku adalah pakaian seragam merah putih pendek plus jilbab putih. Jangan tertawa.. meski aku pun geli mengingat masa itu.

Sepulang sekolah aku biasa mengikuti Bapak ke sawah. Sekedar untuk bermain atau membantunya menyemai jagung dan memetik sayur. Sore hari aku kembali mengeja a-ba-ta di rumah seorang ustadz. Ba’da ashar aku berkumpul bersama teman-tamanku di Madrasah Diniyah alias sekolah agama di Masjid kampung. Menjelang magrib aku masih harus mengecek pelajaran Al-Qur’an hari itu di hadapan Bapak sebelum berangkat ke masjid untuk belajar Al-Qur’an lagi. Aku ingat, dulu aku balajar mengeja huruf hijaiyyah di bawah lampu teplok karena listrik belum masuk ke Desaku. Rutinitas itu terus kujalani hingga aku menjalani kehidupan sekolah lanjutan.

Kadang aku berfikir, kenapa dulu Bapak menyuruhku bergelut dengan semua itu? Lalu aku menemukan jawabannya. Ingat kisah seorang bapak yang mengadukan anaknya kepada khalifah Umar Ibn Khattab?

Syahdan, seorang laki-laki datang menghadap Umar Bin Khattab R.a sembari mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar pun memanggil si anak, lalu menegur dan memperingatkannya dengan keras.
Si anak balik menukas: “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak memiliki hak yang wajib ditunaikan seorang ayah?”
Umar menjawab: “Ya”
Anak itu bertanya, “Apa saja itu?”
Ia Menjawab: “Selektif dalam memilih ibunya, membaguskan namanya, dan mengajarinya Al-Qur’an”

Singkat cerita si anak menjawab bahwa yang dilakukan ayahnya bertentangan dari tiga hal tersebut, sehingga wajar jika kemudian akan tidak berbuat baik kepada ayahnya karena ayaknya tidak memberikan hak-hak kepada anaknya. (Ridha, Manajemen Diri Muslimah: 68)

Subhanallah… aku bersyukur menjadi anak perempuan bapakku dan mendapatkan hak-hakku secara penuh. Ibuku seorang muslimah yang rajin mengajariku bacaan shalat, aku diberinya nama yang indah sarat do’a dan pengaharapan, serta sedari kecil ‘dipaksa’ belajar Al-Qur’an.

_Berhijab_

“Muslimah lebih baik tidak pakai celana panjang. Nanti kalau terbiasa pakai celana, kalau pas pakai rok duduknya sembarangan. Lebih baik biasakan pakai rok, jadi kalo duduk kakinya terbiasa rapi, nggak ‘selonjoran’ kemana-mana; jadinya ngga rawan keliatan aurat”. Namun jiwa remajaku memberontak nasihat Bapak yang satu ini.

‘Apa salahnya sih pakai celana? Justru malah aman karena ngga keliatan kakinya” batinku. Pun saat aku tidak memakai kerudung, Bapak selalu menegur. Aku yang duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (SMP) telah terbiasa berjilbab namun bagiku hanya sebatas seragam sekolah saja, bukan sebuah kewajiban bagi seorang muslimah. Sehingga saat di rumah dan bepergian aku lebih memilih menanggalkannya(astaghfirullahal’adzim..…)

Lain waktu saat aku memaksa memakai celana panjang,

“Kalau pakai celana panjang, yang bahannya kain. Jangan pake jeans. Atasannya jangan pakai kaos, pakailah atasan yang cukup panjang hingga menutupi tubuhmu” itu pesan Bapak yang lain lagi. Dan selalu lebih banyak aku melanggarnya, tergiur oleh cerita teman-teman yang ingin tampil beda dan mengikuti perkembangan mode. Ribet kalau ngikutin nasihat Bapak, gerutuku waktu itu.

Akhirnya, saat ‘terpaksa’ harus malanjutkan sekolah di madrasah lagi aku mulai merasakan nikmatnya mengenakan hijab. Seiring berjalannya waktu dan pelajaran agama yang kudapat di sekolah pun bertambah, aku sadar bahwa menutup aurat itu adalah sebuah kewajiban. Langsung diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Bukan sekedar nasihat Bapak yang menurutku membosankan dan kuno, bukan sekedar seragam dan tuntutan dari sekolah, bukan pula sekedar mode yang ngetrend. Ia adalah kewajiban dan ia adalah identitas muslimah itu sendiri. Dengannya bisa mengabarkan kepada dunia bahwa ‘aku adalah seorang muslimah, dan aku bangga berhijab.

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya)……….”(Q.S An-Nur 24:31)

Aku tak perlu bertanya lagi mengapa dulu Bapak mendidikku seperti itu, karena aku yakin jika aku bertanya, ia akan menjawab: “KARENA ENGKAU SEORANG MUSLIMAH, DAN ENGKAULAH ANAK PEREMPUANKU”

Ah, ternyata setiap kebaikan dan kebiasaan memang harus dipaksakan di awalnya. Marilah sahabat, bersyukur atas segala kondisi yang diberikan Allah untuk kita. Berbanggalah menjadi seorang muslim, terlebih seorang muslimah. Allah selalu punya rahasia yang teramat indah untuk kita. Keep smile! ^^
Allahu a’lam bish shawab… salam inspiratif!!

Penulis: Wahda Khadija Salsabila
LKMAI FP Indahnya Islam 2012

About islami123

jendela islami,. Menggapai Indahnya hidup dengan beribdah dan saling berbagi

Posted on 6 Oktober 2012, in kisah Islami, LKMAI Edisi 1, Lomba Islami, Muslimah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: