Jika Engkau Bersabar


Dua tahun sudah berlalu di damping oleh suasana yang erbeda di Kota Jeddah. Mariam tetap sabar dan tegar menapaki kehidupan yang sedang ditempuhnya di sana. Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia itu adalah lulusan SMA yang tak sanggup melanjutkan kuliah. Sehingga ia sengaja melabuhkan dirinya di negeri orang demi mendapatkan penghasilan. Dan satu tujuannya setelah selesai kontrak kerjanya yaitu,kuliah.

Pemikiran gadis muslimah itu terpaut untuk kembali ke tanah tercinta. Mariam tak ingin dibelenggu keterpurukan hanya karena berasal dari golongan ekonomi bertaraf rendah. Mariam tak mau menyia-nyiakan berkah Allah SWT. Mariam dianugerahi kehidupan oleh Allah SWT,maka Allah SWT pasti merencanakan suatu hal yang besar lagi baik untuk Mariam. Begitulah keyakinan yang ia pegang teguh. Setiap bulan dia menerima gaji dari majaikannya yang baik hati,ia sisihkan beberapa persen untuk dikirimkan kepada kedua orangtuanya.

Dan dua tahun yang berlalu itupun menandai kalender kerja Mariam. Untuk kembali ke pelukan tanah tercinta,Indonesia. Dialah TKW yang amat terobsesi mengubah jalan hidupnya. Obsesi yang sungguh besar baginya. Berjuang untuk mendapatkan uang,kemudian pulang dan melanjutkan kuliah,lulus sebagai seorang designer berbakat,sukses dan mampu membuka kesempatan kerja bagi banyak orang.

Namun saying,niatnya itu terhalang oleh sang majikan yang menginginkan Mariam untuk menunda kepulangannya dengan menambah masa kerjanya selama 1 tahun lagi.

“.مريم، لا تعود الأول. أنا لا تزال بحاجة الى مساعدتكم هنا. البقاء سنة أخرى، ومريم ”
(“Mariam,janganlah kau kembali dulu. Saya masih memerlukan bantuanmu di sini. Tinggallah setahun lagi,Mariam.”) Kata Nyonya Rasidah,majikan Mariam.

“عفوا، يا سيدتي. ولا بد لي من العودة الآن. لدي ما يكفي من المال للذهاب الى الكلية في وطني. اغفر لي إذا كان لدي الكثير من المتاعب هنا سيدة. والامتنان، ومساعدة لهذه السيدة. ”
(“Maaf,Nyonya. Saya harus kembali sekarang. Uang saya sudah cukup untuk melanjutkan kuliah di tanah air saya. Maafkan saya jika saya telah banyak merepotkan Nyonya di sini. Dan terimakasih,atas pertolongan Nyonya selama ini.”) Jawab Mariam dengan nadanya yang lembut.

“مريم! هل كان لديك لي التفكير في مثل أقاربي، ومريم. البقاء هنا مدة سنة أخرى! إذا لم يكن كذلك، سأعقد جواز سفرك، ومريم! ”
(“Mariam! Kau telah ku anggap sebagai kerabatku,Mariam. Tinggallah di sini setahun lagi! Jika tidak,aku akan menahan paspormu,Mariam!” ) Nada Nyonya Rasidah meninggi terhadap Mariam.

Tetregunlah Mariam menghadapi gertakan Nyonya Rasidah. Tiada pilihan lain baginya. Ancaman Nyonya Rasidah membuatnya tak bergeming. Nyonya Rasidah memang baik,ramah,tegas dan terkadang sedikit egois. Dan egoism nya itulah yang menahan Mariam untuk lebih lama lagi tinggal di Jeddah.

Waktu berputar tak terhentikan. Mariam merasa telah suntuk berada di negeri orang. Dalam hatinya berkecamuk,menjerit. Rindu terhadap kampong halaman telah melingkupinya. Rindu tetaplah rindu. Sesak masih dapat dia tahan di dalam hatinya. Walau sebenarnya ia ingin pulang segera. Ia pun berniat untuk melarikan diri,namun mengingat jasa baik Nyonya Rasidah terhadapnya,luluhlah hati gadis itu. Sajak pun menjadi pelipur dukanya. Dalam sajak itu,ia lukiskan perasaannya.

Teringat kenangan di kampung halaman
Yang sukar hati untuk dilupakan
Di kala terbenam mentari ,keriangan tetap terukir
Di kala terbitnya fajar,kenangan kembali terlukis
Tiada prasangka,tiada diramal
Nasib diri dikunci dan dikawal
Di negeri orang nun jauh,hati dibelenggu
Oleh perihal bernama rindu
Aku yakin…
Tuhan itu tak pernah lalai dalam menjaga
Melindungi diri agar tetap bersahaja
Diri menanti,diri menapaki jalanan ini
Hingga diri mampu kembali

Dan…Setahun pun akhirnya berlalu. Membebaskan hati Mariam dari jerat kerinduan dan ketidaksabaran. Ketika itulah,waktunya ia akan kembali ke Indonesia. Sebelum kakinya benar-benar menginjak tanah Indonesia,terlebih dahulu,ia melaksanakan umrah. Memohon kesabaran,petunjuk dan keridhaan Allah SWT.

Setelah tiba di negerinya,fokusnya adalah mengenai keadaan orangtuanya. Lalu,tibalah dirinya di kampungnya yang telah lama ia tinggalkan. Saat kedatangannya,tersiar kabar bahawa rumah tetangganya,Bi Marsi sudah terbakar dilalap api sehari sebelum kepulangannya. Rasa iba menggelayuti pikiran Mariam. Di rumahnya yang tua,Mariam pun menatap sudut-sudut rumahnya yang gelap dan telah usang. Hingga saat itu,terbersit di benaknya untuk memperbaiki rumah orangtuanya dan rumah Bi Marsi,tetangganya.

”Ibu,rumah kita sudah tua,ya,Bu. Mariam pulang sudah membawa banyak uang. Mariam ingin membuat rumah kita jadi lebih bagus dan bias lebih lama lagi untuk ditinggali. Mariam juga ingin membantu Bi Marsi. Kasihan sekali Bi Marsi yang kehilangan rumahnya karena kebakaran.” Ata Mariam kepada ibunya di teras rumahnya yang sederhana.

“Nak,jauh-jauh kamu ke Arab,kamu rela bekerja ke sana untuk mendapatkan uang. Katamu dulu,kamu ingin mencari uang untuk kuliah. Ingat tujuan awalmu,Mariam. Tapi,baiklah. Niatmu itu membuat ibu bangga. Bantulah Bi Marsi,Mariam. Untuk masalah rumah kita,lain waktu saja kalau kamu nanti sudah jadi sukses. Rumah ini masih bagus dan masih baik untuk tempat tinggal kita.” Jawab sang ibu.

Keputusan pun terambil.Mariam putuskan untuk membantu Bi Marsi,tetangganya. Sekitar tiga minggu kemudian,rumah Bi Marsi yang baru telah berdiri. Kebahagian menerangi hati Mariam yang telah melakukan suatu hal yang bermanfaat bagi orang lain.

Seminggu setelahnya,Mariam mendaftarkan diri ke sebuah universitas yang cukup bagus untuk melanjutkan pendidikannya. Berbekal ijazah,bakt dan sejumlah uang,ia berangkat menuju ke universitas tersebut. Naas,setelah setengah jalan ditempuhnya,dia berjumpa dengan perampok yang menghadapkan sebilah pisau tajam padanya. Tiada ancaman,tiada gertakan,perampok itu dengan teganya menghunuskan pisaunya ke perut Mariam dan membawa lari seluruh uang yang dibawa Mariam. Dan terjatuhlah Mariam di tengah kerumunan banyak orang.

Akhirnya,bukan universitas yang ia singgahi namun rumah sakit. Rumah sakit yang menjadi pengganti universitas yang hendak dia datangi. Memang,cobaan dan ujian Allah tiada disangka-sangka datangnya. Marah,kesal,menyesal berkecamuk menggelayuti hati dan pikiran Mariam. Ayah dan Ibunya pun hamper tak mampu menenangkan Mariam. Ia menangis dan menjerit. Meluapkan amarahnya .

“Kenapa Mariam seperti ini!!? Ingin kuliah saja penghalangnya begitu banyak. Ayah……Ibu…….Apa Maria mini tak diberi kesempatan untuk jadi orang yang berguna??” Tangisnya memecah ketenangan di rumah sakit.

“Uang yang Mariam bawa jauh-jauh dari Arab lenyap begitu saja…Ayah….Ibu…… Mariam mau jadi apa nantinya….” Tambahnya dengan suaranya yang terisak-isak.

Syukurlah setelah 5 hari,Mariam diperbolehkan kembali ke rumahnya oleh dokter. Perasaan Mariam pun mulai pulih terobati dari penyesalannya.

Di perjalanan pulang,kedua mata gadis muslimah itu tertuju pada sebuah langgar di desanya. Dan di perjalanan itu,terjadilah percakapan antara Mariam dengan ayah dan ibunya.

“Ayah,Ibu…..Langgar di desa kita terlalu kecil,ya? Langgar ini tak cukup untuk menampung seluruh jamaah di desa kita. Apalagi kalau lebaran kan banyak yang berkunjung,pasti mereka banyak yang tidak dapat masuk ke langgar ini. Ayah…Ibu….Mariam ingin membangunkan sebuah masjid yang sedikit luas di sini. Boleh,ya??” Katanya memohon.

“Mariam,tapi bagaimana dengan rencanamu untuk kuliah??” Tanya sang ayah.

“Uang Mariam masih ada banyak,Ayah. Seumpama nanti uangnya habis dan Mariam batal untuk kuliah,Mariam ikhlas. Kan tujuan Mariam setelah lulus kuliah adalah untuk membantu orang lain . Untuk membuka lapangan kerja. Nah,apa bedanya kalau Mariam mau membangunkan masjid di desa kita. Sama-sama berbuat kebaikan. Mariam kan juga bias nabung untuk keperluan akhirat dengan begitu.” Jawabnya tenang.

Luluh,rela,ikhlas,bangga. Adalah yang dirasakan kedua orangtuanya. Sisa uang Mariam pun akhirnya diperuntukkan membangun masjid. Dan beberapa waktu kemudian,sebuah masjid yang indah,bersih dan cukup luas telah berdiri di desa Mariam.

Di masjid itu,Mariam membina anak-anak dalam sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an. Dia ambil keputusan untuk berdakwah dengan Hajah Aminah,tetangganya yang berprofesi sebagai pendakwah di sebuah acara TV. Walaupun keinginan dan obsesinya untuk menjadi designer musti tertunda,Mariam tetap mengandalkan kunci kesabaran untuk memperoleh hal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Sabar itulah yang meluluhkan obsesinya yang berlebihan. Dia memustuskan untuk menulis dan Alhamdulillah,2 novel karyanya menjadi best-seller. Kedua novel itu adalah “Jalan Cahaya” dan “Tahun-Tahun Mendebarkan” , yang mengulas tentang arti perjuangan seorang muslimah demi menegakkan agama Allah SWT.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)

Kabar gembirapun juga datang kepada Mariam. Sang novelis dan pendakwah itu diundang ke sebuah acara talk-show bersam Hajah Aminah dan Miranda Khairunnisa,seorang designer ternama. Talk-show itu memang singkat. Namun tidak membuat singkat relasi antara Mariam dan designer ternama itu. Keduanya akrab karena acara talk-show itu.

Kedua gadis muslimah itu belajar pengalaman dan pengajaran satu sama lain. Mariam pun menjadi sahabat karib Miranda. Dan Mariam mendapatkan pertolongan dari Miranda. Mariam mendapat bimbingan dari Miranda,orang yang telah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Menjadi seorang designer berbakat adalah impiannya. Dan akhirnya kesabaran Mariam selama ini mengantarkannya menjadi seorang designer. Miranda dan Mariam akhirnya bersama-sama merintis usaha butik dan membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

”Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

Alhamdulillah….

Penulis: Putri Maharani
LKMAI FP Indahnya Islam 2012

About islami123

jendela islami,. Menggapai Indahnya hidup dengan beribdah dan saling berbagi

Posted on 10 September 2012, in kisah Islami, LKMAI Edisi 1. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: